Review Makalah Psikologi Konseling Islam

Dibuat Guna Memenuhi Tugas Mata KuliahPsikologi Konseling Islam
Dosen Pengampu : Uswatun Hasanah, M.Pd.I.
 Disusun Oleh:
Almujahidah Layal Anhur   1904032002
JURUSAN BIMBINGAN PENYULUHAN ISLAM (BPI)
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH 
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG
T.A. 1441H/2020

DEVINISI PSIKOLOGI KONSELING
1.    Pengertian Psikologi Konseling
Psikologi konseling adalah proses konseling berupa bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada individu yang mengalami masalah melalui pendekatan psikologi.
Terdapat banyak kesamaan antara konseling dan psikoterapi. Konselor sering kali mempraktikkan sesuatu yang dipandang sebagai psikoterapi oleh psikoterapis. Demikian juga, psikoterapis sering kalimempraktikan sesuatu yang dipandang sebagai konseling oleh konselor. Meskipun demikian, kedua bidang ini tetap berbeda. Berikut adalah beberapa perbedaan antara konseling dan psikoterapi.
psikologi dapat disebut sebagai ilmu yang mandiri karena memenuhi beberapa syarat berikut : 
a. Secara sistematis, psikologi mempelajari melalui penelitian-penelitian ilmiah menggunakan metode ilmiah.
 b. Memiliki struktur keilmuan yang jelas.
c. Memiliki objek formal dan material.
d.  metode ilmiah seperti eksperimen, observasi, case history, test and measurement.
d. Memiliki terminologi khusus, seperti bakat, motivasi, inteligensi, dan kepribadian.
e. Dapat  diaplikasikandalam berbagai adegan kehidupan.


2.    Fungsi Psikologi Dan Aplikasinya SebagaiIlmu
Sebagai sebuah ilmu yang cukup dinamis perkembangannya, eksistensi psikologimemberikan andil yang besar dalam mendeskripsikan suatu keadaan dan kejadian yang sering kali dialami oleh manusia. Tidak melulu kasus-kasus yang berhubungan dengan hukum kriminal, Pendidikan, sosial kemasyarakatan, dan politik, tetapi tinjauanilmu psikologi juga mencakup persoalan ekonomi dan perbankan.

3.  Sejarah Perkembangan Psikologi Konseling
Latar Belakang Perkembangan Profesi Konseling Tidak Dapat Dipisahkan Dari Dua Jalur Penanganan Terhadap Masalah-Masalah Yang Dihadapi Masyarakat Barat, Yaitu Tradisi Gangguan Mental Dan Penanganan Masalah-Masalah Pendidikan Dan Pekerjaan Di Sekolah. Meskipun tidak jelas tercatat waktu dimulainya psikologi konseling sebagai sebuah profesi, namun sejarah mencatat nama Jesse M. Davis pada tahun 1898 sebagai orang yang pertama melakukan kegiatan ini. Ia banyak membantu menyelesaikan persoalan murid-muridnya, terutama yang berhubungan dengan persoalan studi mereka tempuh.

4.    Pengertian Psikologi  Konseling
Psikologi Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konsele) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Frank Parsons di tahun 1908 saat ia melakukan konseling karier. Berikut Pengertian Konseling Menurut Para Ahli
a.      Menurut Schertzer dan Stone (1980)
Psikologi Konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.
b.      Menurut Jones (1951)
Psikologi Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan. Dimana ia diberi panduan pribadi dan langsung dalam pemecahan untuk lkien. Konseling harus ditujukan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan.
c.       Prayitno dan Erman Amti (2004:105)
Psikologi Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

5.  Konseling Untuk Perubahan Perilaku
Tujuan akhir dari proses konseling adalah perubahan tingkah laku ke arah yang lebih positif dan konstruktif. Perubahan tingkah laku merupakan proses yang aktif dan bereaksi dalam situasi yang ada pada klien. Itu berarti bahwa proses perubahan tingkah laku darahkan pada tujuan dan proses berbuat melalui situasi yang ada pada klien. Ada beberapa teori  perubahan tigkah laku  berdasarkan pada aliran psikologi melandasinya. Yaitu:
1.      Teori Perubahan Tingkah Laku Behaviorisme.
2.      Teori Perubahan Tingkah Laku Kognitif.
3.      Teori Perubahan Tingkah Laku Gestalk.

6. Tahapan-Tahapan Dalam Bimbingan Konseling
a.   Tahapan Awal
Tahap awal merupakan upaya untuk menjalin hubungan baik antara Konselor dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling.
b.   Tahapan Inti
·     Eksplorasi kondisi klien.
·     Identifikasi masalah dan penyebabnya.
·     Pengujian dan penetapan alternative pemecahan.
c.     Tahap Akhir
·     Analisis
·     Sintesis
·     Diagnosis

7. Komunikasi Dalam Konseling
Komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan (ide,gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling mempengaruhi di antara keduanya. Dalam konseling ada 2 komunikasi yaitu komuunikasi nonverbal (proses komunikasi yang tidak menggunakan kata-kata dalam menyampaikan pesan) dan komunikasi interpersonal (komunikasi yang menyertakan dua orang atau lebih dalam tatanan komunikasi secara tatap muka).
Teknik Komunikasi dalam Konseling adalah Menghampiri konseli, mendengarkan dengan aktif, bersikap empati, menangkap pesan, memberikan pertanyaan, memberikan dorongan minimal, memberikan arahan kepada konseli, menyimpulkan sementara, memimpin jalannya konseling, memusatkan perhatian pada masalah, konfrontasi, menjelaskan kata-kata yang kurang jelas atau meragukan, merefleksikan perasan, diam, membuat simpulan akhir.

8. Manajemen Setres
Manajemen stres merupakan kecakapan dalam menghadapi tantangan dengan cara mengendalikan tanggapan secara proporsial. Teori dasar tentang stress dapat disimpulka dalam 3 variabel pokok adalah sebagai berikut:
a.    Variabel Stimulus
Variabel ini dikenal pula dengan engineering approach (pendekatan rekayasa), yang mengonsepsikan stress sebagai suatu stimulus atau tuntutan yang mengancam (berbahaya), yaitu tekanan dari luar terhadap individu yang menyebabkan sakit (mengganggu kesehatan). Dalam model ini, stress dapat juga disebabkan oleh stimulasi eksternal, baik sedikit maupun banyak
b.    Variabel Respons
Variabel ini disebut pula dengan physiological approach (pendekatan fisiologis) yang didasarkan pada tripbase dari Hans Selye. Ia lahir di Vienna Montreal.
c.    Variabel Interaktif
Dalam konteks stres sebagai interaksi antara individu dengan lingkungan, tetapi juga suatu proses di mana individu juga merupakan pengantara (agent) yang aktif, yang dapat mempengaruhi stressor melalui strategi perilaku kognitif dan emosional.

9. Pengelolaan (Manajemen) Stress
Faktor-faktor yang mempengarui copingI sebagai upaya mereduksi atau mengatasi stress adalah sebagai berikut :
a.    Dukungan sosial
Dukungan sosial dapat diartikan sebagai pemberian bantuan atau pertolongan terhadap seseorang yang mengalami stress dari orang lain yang memiliki hubungan dekat (saudara atau teman).
b.    Kepribadian
1.       Hardiness (ketabahan atau daya tahan)
        2.      Optimis (optimism)
        3.       Humoris

10.  Definisi Kondisi Psikologis Yang Menunjang Proses Konseling
        a. Definisi
Secara umum kondisi psikologis merupakan keadaan, situasi yang bersifat kejiwaan. Konseling merupakan profesi bantuan (helping pro-fession) yang diberikan oleh konselor kepada konseli yang berlangsng dalam suatu kondisi psikologis yang diciptakan bersama. Kondisi psikologis ini akan memengaruhi proses dan hasil konseling.
      b. Ragam Kondisi Psikologis Dalam Konseling
Menurut Rogers yang dikutip Hartono,  kondisi psikologis dalam konseling mencakup keamanan dan kebebasan psikologis. Selanjutnya Hartono, menyatakan bahwa konselor yang berhasil dalam membina hubungan konseling biasanya memiliki sikap humanistik, seperti tulus, jujur, hangat, penuh penerimaan, selaras pikiran nya, perasaan, dan perbuatannya sehingga ia bisa dengan akurat berempati dengan konseli.

11. Jenis-jenis Teknologi yang Digunakan Dalam Konseling
Media komunikasi untuk konseling dapat berupa apa yang dibaca dari teks, apayang didengar dari audio, apa yang dilihat dan didengar dari seseorang atau video. Proses interaksi pada konseling dapat sinkron atau tidak sinkron. Interaksi sinkron terjadi jika ada selang waktu yang sedikit atau tidak ada selang waktu sama sekali antara tanggap konselor dan klien. Interaksi sinkron terjadi jika ada selang waktu antara tanggapan konselor dan klien.[25] Berikut ini adalah taksonomi konseling jarak jauh yang dibantu teknologi dan konseling tatap muka :
       1.     Konseling tatap muka
           a.    Konseling individual
           b.   Konseling pasangan
           c.    Konseling kelompok
      2.     Konseling jarak jauh yang dibantu teknologi
           a.    Telekonseling
·       Konseling individual berdasarkan telepon
·       Konseling pasangan berdasarkan telepon
·       Konseling kelompok berdasarkan telepon
·       Konseling internet 
              b.       Konseling individual berdasarkan e-mail
              c.      Konseling individual berdasarkan chat
              d.     Konseling pasangan berdasarkan chat
              e.      Konseling kelompok berdasarkan chat
              f.      Konseling individual berdasarkan video
             g.     Konseling pasangan berdasarkan video
             h.     Konseling kelompok berdasarkan video

12.  Pengertian Hubungan Terapeutik
Hubungan terapeutik merupakan proses hubungan antara klien dan konselor yang mempunyai nilai-nilai penyembuhan dan akhirnya dapat mencapai tujuan konseling. Dalam hubungan tersebut klien merasa di hargai, di terima dan di arahkan. Dalam hubungan tersebut klien dapat meredakan ketegangan (katarsis), mengekspresikan perasaan dan pikiran, mengurangi beban psikologis bahkan menghilangkan sama sekali.

13. Tujuan Hubungan Terapeutik
Menurut Stuart dan Sundeen tujuan umum hubungan terapeutik adalah :
a.   Kesadaran, penerimaan dan penghargaan dari klien meningkat.
b.   Pemahaman identitas diri dan integrasi diri meningkat.
c.   Kemampuan membina hubungan akrab, interpedensi pribadi, keterampilan menerima dan memberi kasih sayang meningkat.
d.   Pemenuhan kebutuhan diri dan tujuan yang realistis juga meningkat. Melalui hubungan terapeutik klien merasa nyaman, lega dan dapat membentuk perilaku baru untuk pengembangan diri klien.

14. Senyuman Dan Empati
Senyum merupakan komponen gerakan wajah yang berhubungan dengan dan disebabkan oleh perasaan bahagia atau senang.Ekman dan Friesen membagi dua macam senyum palsu, yaitu phony smiles dan masking smiles. Dalam phony smiles, tidak ada sesuatu yang dirasakan, tetapi usaha dibuat untuk menunjukkan seolah-olah perasaan positif dirasakan. Dalam masking smiles, emosi negatif yang kuat dirasakan dan usaha dibuat untuk menyembunyikan perasaan ini dengan menunjukkan perasaan positif.
empati adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat menempatkan dirinya kedalam pikiran dan perasaan orang lain yang dilakukan secara sadar, tanpa harus secara nyata terlibat dalam perasaan maupun tanggapan orang tersebut. empati terdiri dari dua komponen yaitu komponen kognitif (perpective taking dan fantasy) dan komponen afektif (emphatic concern dan personal distress).

15. Pengertian  the sacks sentence completion test (SSCT)
SSCT merupakan salah satu alat test kepribadian berbentuk proyeksi yang menggunakan stimulus berupa kalimat-kalimat yang belum selesai. SSCT membutuhkan kemampuan membaca dan memahami yang baik dari sisi klien atau peserta. SSCT tidak dapat diberikan kepada mereka yang belum mengenal baca dan juga tulis.
SSCT (Sacks Sentence Completion Test) adalah suatu teknik proyeksi yang digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang dapat menampakkan diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam interpretasi terhadap lingkungan. Tes ini biasanya digunakan untuk orang dewasa dan bertujuan untuk mengetahui individu adjustment dan struktur kepribadian.

16. Konseling Khusus
Indijenes berasal dari kata Indigenous (bahasa Inggris). Secara harfiah artinya pribumi atau asli. Konseling Indijenes adalah konseling yang berdasarkan nilai-nilai budaya suatu masyarakat.
Sebagian besar teori-teori konseling berasal dari negara-negara Barat. Teori-teori tersebut dikembangkan oleh para ahli untuk membantu individu yang membutuhkannya dengan menggunakan metode terapi tertentu, terutama untuk masyarakat mereka sendiri. Teori-teori Freud, Adler, Sulliyan, Jung, Maslow, Erickson, dan Hall sering digunakan secara universal (Munarriz, 1982).
Mohamad (1982) mengemukakan konsep bimbingan dan konseling, menurut pandangan Islam sebagai salah satu alternatif konseling indijenes di Malaysia. Alasannya adalah karena sebagian besar penduduk Malaysia beragama Islam. Teknik tersebut dapat dilakukan bersama konselor atau dilakukan sendiri oleh klien. Hal-hal yang dikemukakan Mohammad, baru merupakan pemikiran atau konsep-konsep bimbingan dan konseling Islami sebagai alternatif  konseling indijenes di Malaysia.
a.      Psikologi indijenes menguji fenomena psikologi dalam konteks ekologi, sejarah, dan budaya.
b.      Psikologi indijenes dikembangkan pada semua aspek budaya, penduduk asli dan kelompok etnis.
c.      Psikologi indijenes menggunakan multimetode.
d.      Psikologi indijenes terintregrasi secara “insider, outsider” dan multiperspektif untuk mencapai pemahaman yang komprehensif dan integratif.
e.      Psikologi indijenes mengakui bahwa orang mempunyai suatu pemahaman yang kompleks dan sofistikasi terhadap diri mereka dapat menggunakan dalam kehidupan praktis dan sebagai pengetahuan.

17. Kode Etik Profesional Bimbingan Konseling
a. Pengertian
Etika organisasi Profesi Bimbingan Dan Konseling adalah kaidah-kaidah nilai dan moral yang menjadi rujukan bagi anggota organisasi dalam melaksanakan tugas, atau tanggung jawabnya dalam melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling kepada klien. Konseling merupakan proses pelayanan bantuan yang pelaksanaannya didasarkan atas keahlian.
b. Landasan Legal
Selain anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ABKIN, landasan legal kode etik profesi Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah:
1.      Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 NKRI dan Bhineka Tunggal Ika
2.      Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
3.      PP RI No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan (pasal 28 ayat 1, 2 dan 3 Tentang Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan)
4.      PP RI No. 24 Tahun 2008 Tentang Guru
5.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
6.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 27 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor
7.      Dasar Standarisasi Profesi Konseling (DSPK) yang disusun dan diberlakukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mulai Tahun 2003/2004
8.      Panduan Pengembangan Din yang disusun dan diberlakukan oleh Pusat Kurikulum Badan Pengembangan dan Penelitian Pendidikan sejak tahun 2006.

18.  Tujuan Penegakan Dan Penerapan Kode Etik
a.      Menjunjung tinggi martabat profesi
b.      Melindungi masyarakat dari perbuatan malpraktik
c.      Meningkatkan mutu profesi
d.      Menjaga standar mutu dan status profesi
e.      Penegakan ikatan antara tenaga profesi dan profesi yang disandangnya









Komentar

Posting Komentar